Hotline Konsultasi Bebas Narkoba (BNN): 184 | Stunting Dinkes Kota Gorontalo: 0813-4023-9563
Coba Kuis Sekarang
Stunting

Mengenal Stunting dan Cara Pencegahannya

Stunting merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapatkan perhatian karena dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Stunting tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari berbagai faktor yang berlangsung dalam waktu panjang, terutama pada periode awal kehidupan. Menurut Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021, stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar yang ditetapkan. Pengenalan terhadap stunting penting dilakukan agar orang tua, keluarga, kader, dan masyarakat dapat mengenali faktor risikonya serta melakukan tindakan pencegahan sejak dini.

AD
Administrator
Penulis / Kontributor Resmi
Diperbarui: 20 August 2026
Mengenal Stunting dan Cara Pencegahannya
Mengenal Stunting dan Cara Pencegahannya

A. Pengertian Stunting

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang berkaitan dengan kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Kondisi tersebut ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak yang berada di bawah standar menurut usia.

Masalah stunting dapat mulai terjadi sejak anak masih berada dalam kandungan dan berlanjut pada masa awal kehidupan. Kekurangan gizi dalam jangka panjang, terutama selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan.

Hal penting yang perlu dipahami:

Tidak semua anak yang memiliki tubuh pendek dapat langsung dikatakan mengalami stunting.

Status stunting ditentukan melalui pengukuran panjang atau tinggi badan menurut umur dengan standar antropometri yang berlaku. Oleh karena itu, pemantauan pertumbuhan secara rutin sangat penting.


B. Bagaimana Stunting Terjadi?

Stunting merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berhubungan.

Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Asupan gizi tidak mencukupi

Pertumbuhan dan perkembangan tidak optimal

Anak lebih rentan mengalami gangguan kesehatan

Infeksi atau penyakit berulang

Pertumbuhan terhambat

Risiko stunting meningkat

Proses tersebut dapat berlangsung secara bertahap. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan sebelum masalah pertumbuhan menjadi lebih berat.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa penyebab stunting dapat berkaitan dengan asupan gizi ibu dan anak, status kesehatan anak, pola asuh, ketahanan pangan, kondisi lingkungan, akses pelayanan kesehatan, sanitasi, dan air bersih.


C. Faktor Risiko Stunting

1. Kekurangan gizi

Asupan makanan yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh dalam waktu lama dapat menghambat pertumbuhan anak.

Kualitas makanan juga penting. Anak membutuhkan makanan yang beragam dan mengandung zat gizi yang cukup, termasuk sumber protein.

2. Kondisi gizi ibu

Kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum dan selama kehamilan dapat memengaruhi pertumbuhan janin.

Oleh karena itu, pencegahan stunting tidak hanya dimulai setelah anak lahir, tetapi perlu dimulai sejak sebelum kehamilan.

3. Praktik pemberian makan yang kurang tepat

Pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI) perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.

Setelah usia enam bulan, ASI perlu dilanjutkan dengan pemberian MPASI yang cukup, beragam, dan bergizi. Kualitas makanan, termasuk kecukupan protein, perlu menjadi perhatian.

4. Infeksi berulang

Anak yang sering mengalami infeksi dapat mengalami gangguan dalam pemenuhan dan pemanfaatan zat gizi. Infeksi berulang merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan terjadinya stunting.

5. Sanitasi dan air bersih

Lingkungan yang tidak sehat, keterbatasan akses air bersih, dan sanitasi yang buruk dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi.

Karena itu, perbaikan sanitasi dan akses air bersih merupakan bagian dari upaya pencegahan stunting.

6. Pola asuh

Pola asuh memiliki peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk praktik pemberian makan, perawatan ketika anak sakit, kebersihan, serta stimulasi perkembangan.


D. Apakah Anak Pendek Pasti Stunting?

Tidak.

Anak yang terlihat lebih pendek dibandingkan teman seusianya belum tentu mengalami stunting.

Untuk menentukan apakah seorang anak mengalami stunting, diperlukan pengukuran panjang atau tinggi badan berdasarkan umur dan jenis kelamin menggunakan standar pertumbuhan yang berlaku.

Dengan demikian, orang tua sebaiknya tidak melakukan diagnosis sendiri hanya berdasarkan penampilan fisik anak.

Pemantauan pertumbuhan di Posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan membantu mengetahui apakah pertumbuhan anak berjalan sesuai dengan usianya.


E. Tanda yang Perlu Diperhatikan

Beberapa kondisi yang perlu mendapatkan perhatian antara lain:

  • pertumbuhan tinggi atau panjang badan tidak sesuai dengan usianya;

  • pertumbuhan anak melambat;

  • berat badan tidak mengalami peningkatan sebagaimana yang diharapkan;

  • anak sering mengalami infeksi atau sakit;

  • perkembangan anak tampak tidak sesuai dengan tahapan usianya.

Namun, tanda-tanda tersebut bukan merupakan dasar untuk mendiagnosis stunting secara mandiri.

Jika orang tua memiliki kekhawatiran mengenai pertumbuhan atau perkembangan anak, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.


F. Cara Mencegah Stunting

Pencegahan stunting perlu dilakukan secara menyeluruh.

1. Memenuhi gizi sejak masa kehamilan

Ibu hamil perlu mendapatkan makanan yang bergizi dan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.

Kondisi kesehatan ibu selama kehamilan merupakan bagian penting dari upaya pencegahan stunting.

2. Memberikan ASI

ASI merupakan sumber nutrisi penting bagi bayi. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan merupakan salah satu upaya penting dalam mendukung pertumbuhan bayi.

3. Memberikan MPASI yang tepat

Mulai usia enam bulan, kebutuhan energi dan zat gizi anak meningkat sehingga ASI perlu dilengkapi dengan MPASI.

MPASI perlu diberikan dengan memperhatikan:

  • kecukupan energi;

  • protein;

  • vitamin dan mineral;

  • keragaman bahan makanan;

  • tekstur yang sesuai usia;

  • frekuensi pemberian sesuai kebutuhan anak.

4. Memantau pertumbuhan anak

Orang tua perlu membawa anak ke Posyandu atau fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemantauan pertumbuhan secara rutin.

Pengukuran berat badan, panjang/tinggi badan, dan indikator pertumbuhan lainnya membantu mendeteksi masalah pertumbuhan lebih awal.

5. Mencegah dan menangani infeksi

Menjaga kebersihan, memberikan imunisasi sesuai jadwal, serta segera mencari pertolongan ketika anak sakit merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan anak.

6. Menjaga sanitasi dan kebersihan

Keluarga perlu memastikan:

  • tersedianya air bersih;

  • penggunaan jamban yang layak;

  • kebiasaan mencuci tangan;

  • kebersihan makanan;

  • kebersihan lingkungan rumah.

Kementerian Kesehatan menempatkan perbaikan pola makan, pola asuh, serta sanitasi dan akses air bersih sebagai bagian penting dalam pencegahan stunting.


G. Peran Orang Tua

Orang tua memiliki peran penting dalam mencegah stunting.

Peran tersebut antara lain:

Sebelum kehamilan

  • memperhatikan status kesehatan dan gizi calon ibu;

  • menerapkan pola hidup sehat.

Selama kehamilan

  • melakukan pemeriksaan kehamilan;

  • memenuhi kebutuhan gizi;

  • mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Setelah bayi lahir

  • memberikan ASI;

  • memberikan MPASI sesuai usia;

  • memantau pertumbuhan;

  • menjaga kebersihan;

  • memberikan imunisasi sesuai jadwal;

  • memberikan stimulasi perkembangan.

Dengan keterlibatan aktif orang tua, berbagai faktor risiko stunting dapat diketahui dan ditangani lebih awal.


H. Peran Posyandu dan Tenaga Kesehatan

Posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran penting dalam mendukung pencegahan stunting.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan meliputi:

  • pemantauan pertumbuhan anak;

  • edukasi gizi kepada keluarga;

  • pemantauan perkembangan anak;

  • pemberian informasi mengenai pola makan;

  • deteksi dini masalah pertumbuhan;

  • rujukan apabila ditemukan masalah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Keterlibatan masyarakat dan tenaga kesehatan mendukung upaya percepatan penurunan stunting yang dilakukan secara terpadu di Indonesia. Perpres Nomor 72 Tahun 2021 menetapkan kelompok sasaran percepatan penurunan stunting yang mencakup remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0–59 bulan.


I. Mitos dan Fakta tentang Stunting

Mitos 1

“Anak pendek pasti karena keturunan.”

Fakta:
Genetik bukan satu-satunya faktor yang menentukan pertumbuhan anak. Asupan gizi, kesehatan, pola asuh, lingkungan, sanitasi, dan akses pelayanan kesehatan juga berperan.

Mitos 2

“Stunting hanya masalah tinggi badan.”

Fakta:
Stunting berkaitan dengan gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Dampaknya dapat melibatkan aspek perkembangan anak, bukan hanya ukuran tubuh.

Mitos 3

“Kalau anak terlihat sehat, tidak perlu memantau pertumbuhannya.”

Fakta:
Pemantauan pertumbuhan tetap penting karena masalah pertumbuhan tidak selalu mudah dikenali hanya dari penampilan anak.

Mitos 4

“Pencegahan stunting baru dimulai setelah anak lahir.”

Fakta:
Pencegahan perlu dimulai sedini mungkin, termasuk memperhatikan kesehatan dan gizi sebelum serta selama kehamilan.


J. Pesan Utama

Stunting dapat dicegah dengan tindakan yang dilakukan sejak dini dan secara konsisten.

Lima hal yang perlu diingat:

1. Kenali pertumbuhan anak.
2. Penuhi kebutuhan gizinya.
3. Terapkan pola asuh yang baik.
4. Cegah infeksi dan jaga kebersihan.
5. Manfaatkan Posyandu dan pelayanan kesehatan.

Pencegahan stunting membutuhkan kerja sama antara keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan, dan berbagai sektor terkait.


Referensi

  1. Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Stunting. Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI.
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Makan, Pola Asuh dan Sanitasi.
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Ini Penyebab Stunting pada Anak.
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Mengenal Apa Itu Stunting. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.
  6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Stunting Bisa Dicegah Mulai dari Rumah! Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, 2025.