Hotline Konsultasi Bebas Narkoba (BNN): 184 | Stunting Dinkes Kota Gorontalo: 0813-4023-9563
Coba Kuis Sekarang
Stunting

Deteksi Dini dan Pencegahan Stunting: Mengenali Masalah Pertumbuhan Sebelum Terlambat

Stunting merupakan salah satu masalah pertumbuhan dan perkembangan anak yang perlu dicegah sejak dini. Stunting berkaitan dengan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan berbagai faktor lainnya yang dapat terjadi sejak masa kehamilan hingga periode awal kehidupan anak. Salah satu langkah penting dalam pencegahan stunting adalah mengenali faktor risiko dan masalah pertumbuhan sedini mungkin. Deteksi dini memungkinkan orang tua dan tenaga kesehatan mengetahui adanya perubahan pertumbuhan sebelum kondisi menjadi lebih berat. Deteksi dini tidak berarti orang tua melakukan diagnosis sendiri terhadap anak. Penentuan kondisi pertumbuhan anak perlu dilakukan melalui pengukuran yang tepat dan penilaian oleh tenaga kesehatan. Anak yang terlihat aktif dan sehat tetap perlu dipantau karena gangguan pertumbuhan tidak selalu dapat dikenali hanya melalui pengamatan. Pemantauan berat badan, panjang atau tinggi badan, serta perkembangan anak secara berkala dapat membantu mengetahui kondisi anak dari waktu ke waktu.

AD
Administrator
Penulis / Kontributor Resmi
Diperbarui: 23 August 2026
Deteksi Dini dan Pencegahan Stunting: Mengenali Masalah Pertumbuhan Sebelum Terlambat
Deteksi Dini dan Pencegahan Stunting: Mengenali Masalah Pertumbuhan Sebelum Terlambat

1. Materi Utama

1.1 Pengertian Deteksi Dini Stunting

  • Deteksi dini merupakan upaya untuk menemukan tanda, faktor risiko, atau perubahan kondisi kesehatan sedini mungkin.
  • Dalam konteks stunting, deteksi dini berkaitan dengan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak serta identifikasi faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan.
  • Deteksi dini bukan berarti menetapkan diagnosis hanya berdasarkan penampilan fisik anak.
  • Pengukuran pertumbuhan harus dilakukan dengan alat dan prosedur yang sesuai.
  • Hasil pengukuran kemudian dinilai berdasarkan standar pertumbuhan menurut umur dan jenis kelamin.
  • Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa penilaian stunting melibatkan pengukuran panjang atau tinggi badan serta penelusuran berbagai faktor yang berkaitan dengan kondisi anak. (ayosehat.kemkes.go.id)
  • Deteksi dini memberikan kesempatan untuk menemukan masalah lebih cepat dan melakukan tindakan sesuai penyebabnya.

1.2 Mengapa Deteksi Dini Penting?

  • Pertumbuhan anak berlangsung secara bertahap dan dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
  • Masalah pertumbuhan yang ditemukan lebih awal dapat segera dievaluasi.
  • Semakin cepat faktor risiko diketahui, semakin cepat keluarga dapat melakukan perubahan.
  • Deteksi dini dapat membantu:
    • Mengetahui pertumbuhan anak.
    • Mengenali masalah gizi.
    • Menemukan penyakit yang mungkin memengaruhi pertumbuhan.
    • Mengidentifikasi masalah pola makan.
    • Menilai kondisi lingkungan.
    • Memberikan edukasi kepada keluarga.
    • Menentukan kebutuhan pemeriksaan lebih lanjut.
  • Pemantauan rutin membantu tenaga kesehatan melihat pola pertumbuhan anak, bukan hanya kondisi pada satu waktu.
  • Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa pemantauan rutin dapat membantu menemukan gangguan pertumbuhan lebih awal. (ayosehat.kemkes.go.id)

1.3 Deteksi Dini Dimulai Sejak Masa Kehamilan

  • Pencegahan stunting tidak seharusnya menunggu anak lahir.
  • Kondisi ibu sebelum dan selama kehamilan dapat memengaruhi pertumbuhan janin.
  • Faktor yang perlu diperhatikan antara lain:
    • Status gizi ibu.
    • Anemia.
    • Kekurangan energi kronis.
    • Infeksi.
    • Usia kehamilan.
    • Pemeriksaan kehamilan.
    • Asupan makanan.
    • Konsumsi suplemen sesuai anjuran tenaga kesehatan.
  • Ibu hamil perlu mendapatkan pemeriksaan kehamilan secara rutin.
  • Kondisi ibu perlu dipantau agar masalah kesehatan dapat diketahui dan ditangani lebih awal.
  • Pemenuhan gizi ibu juga perlu menjadi perhatian.
  • Pencegahan sejak masa kehamilan merupakan bagian penting dari upaya mencegah gangguan pertumbuhan pada anak.

1.4 Mengenali Faktor Risiko pada Ibu

  • Beberapa kondisi ibu dapat meningkatkan kebutuhan perhatian dalam pencegahan stunting.
  • Faktor yang perlu diperhatikan antara lain:
    • Ibu mengalami anemia.
    • Ibu mengalami kekurangan energi kronis.
    • Asupan makanan tidak mencukupi.
    • Kehamilan pada usia terlalu muda.
    • Ibu mengalami penyakit tertentu selama kehamilan.
    • Pemeriksaan kehamilan tidak dilakukan secara rutin.
    • Jarak kehamilan terlalu dekat.
  • Adanya faktor risiko tidak berarti anak pasti mengalami stunting.
  • Faktor risiko menunjukkan bahwa ibu dan anak mungkin membutuhkan perhatian dan pemantauan lebih lanjut.
  • Keluarga perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan tindakan yang sesuai.

1.5 Mengenali Faktor Risiko pada Bayi

  • Setelah bayi lahir, pemantauan perlu dilanjutkan.
  • Riwayat kelahiran dapat menjadi bagian dari informasi yang penting dalam pemantauan.
  • Kondisi yang perlu mendapatkan perhatian antara lain:
    • Bayi lahir prematur.
    • Bayi memiliki berat badan lahir rendah.
    • Bayi mengalami hambatan pertumbuhan dalam kandungan.
    • Bayi mengalami kesulitan menyusu.
    • Bayi mengalami penyakit tertentu.
  • Faktor tersebut tidak secara otomatis berarti bayi akan mengalami stunting.
  • Namun, bayi dengan kondisi tertentu mungkin memerlukan pemantauan pertumbuhan yang lebih cermat.
  • Orang tua perlu mengikuti anjuran tenaga kesehatan mengenai pemberian ASI, pemantauan kesehatan, imunisasi, dan pertumbuhan bayi.

1.6 Indikator Pertumbuhan yang Perlu Dipantau

  • Pemantauan pertumbuhan dapat mencakup:
    • Berat badan.
    • Panjang badan.
    • Tinggi badan.
    • Lingkar kepala.
    • Lingkar lengan atas pada kelompok usia atau kondisi tertentu.
  • Kementerian Kesehatan memasukkan penimbangan dan pengukuran sebagai bagian dari pelayanan pemantauan tumbuh kembang anak di Posyandu. (ayosehat.kemkes.go.id)
  • Setiap indikator memberikan informasi yang berbeda.
  • Berat badan dapat digunakan untuk melihat perubahan berat tubuh anak.
  • Panjang atau tinggi badan penting untuk melihat pertumbuhan linear.
  • Lingkar kepala dapat membantu memantau pertumbuhan kepala pada anak.
  • Hasil pengukuran sebaiknya dilihat secara berkala untuk mengetahui pola pertumbuhan.

1.7 Pengukuran Berat Badan

  • Berat badan merupakan salah satu indikator penting dalam pemantauan pertumbuhan.
  • Orang tua perlu memperhatikan perubahan berat badan anak dari waktu ke waktu.
  • Berat badan yang tidak bertambah atau mengalami penurunan perlu mendapatkan perhatian.
  • Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan:
    • Asupan makanan yang tidak mencukupi.
    • Kesulitan makan.
    • Penyakit infeksi.
    • Gangguan kesehatan tertentu.
    • Masalah pemberian makan.
  • Satu kali hasil pengukuran tidak selalu cukup untuk menentukan penyebab masalah.
  • Tenaga kesehatan perlu melihat riwayat pertumbuhan dan kondisi anak secara keseluruhan.

1.8 Pengukuran Panjang dan Tinggi Badan

  • Panjang atau tinggi badan merupakan indikator penting dalam mengenali gangguan pertumbuhan linear.
  • Pada anak yang belum dapat berdiri dengan baik, panjang badan diukur dalam posisi berbaring.
  • Pada anak yang sudah dapat berdiri dengan baik, tinggi badan dapat diukur menggunakan alat yang sesuai.
  • Pengukuran perlu dilakukan dengan teknik yang benar.
  • Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan standar pertumbuhan berdasarkan umur dan jenis kelamin.
  • Kementerian Kesehatan menggunakan indikator panjang atau tinggi badan menurut umur dalam penilaian stunting. (ayosehat.kemkes.go.id)
  • Orang tua sebaiknya tidak menyimpulkan anak mengalami stunting hanya karena anak terlihat pendek.

1.9 Mengenali Perubahan Pertumbuhan

  • Yang perlu diperhatikan bukan hanya hasil pengukuran, tetapi juga perubahan hasil pengukuran dari waktu ke waktu.
  • Beberapa kondisi yang perlu mendapatkan perhatian antara lain:
    • Berat badan tidak mengalami kenaikan.
    • Berat badan mengalami penurunan.
    • Pertumbuhan tinggi atau panjang badan tampak melambat.
    • Anak mengalami masalah pertumbuhan secara berulang.
    • Anak sering mengalami penyakit.
    • Anak mengalami kesulitan makan yang menetap.
  • Jika ditemukan kondisi tersebut, orang tua perlu berkonsultasi dengan kader atau tenaga kesehatan.
  • Semakin cepat penyebab diketahui, semakin cepat tindakan yang sesuai dapat diberikan.

1.10 Mengenali Masalah Gizi

  • Masalah gizi pada anak dapat berupa kekurangan maupun kelebihan gizi.
  • Dalam konteks pencegahan stunting, perhatian khusus diberikan terhadap kekurangan gizi yang dapat mengganggu pertumbuhan.
  • Faktor yang dapat menyebabkan masalah gizi antara lain:
    • Asupan makanan tidak mencukupi.
    • Makanan kurang beragam.
    • Kurangnya sumber protein.
    • Kesulitan makan.
    • Penyakit infeksi.
    • Gangguan penyerapan zat gizi.
    • Kondisi sosial ekonomi.
    • Pola pengasuhan.
  • Penilaian status gizi sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan berdasarkan hasil pengukuran yang sesuai.
  • Orang tua dapat membantu dengan memberikan informasi mengenai pola makan dan riwayat kesehatan anak.

1.11 Mengenali Penyakit yang Dapat Mengganggu Pertumbuhan

  • Penyakit yang terjadi berulang dapat memengaruhi status gizi dan pertumbuhan anak.
  • Penyakit seperti diare dapat menyebabkan kehilangan cairan dan mengganggu kondisi gizi.
  • Infeksi saluran pernapasan yang berulang juga dapat mengganggu kondisi kesehatan anak.
  • Anak yang sakit dapat mengalami penurunan nafsu makan.
  • Ketika anak sakit, kebutuhan tubuh terhadap zat gizi dapat meningkat.
  • Pencegahan penyakit dapat dilakukan melalui:
    • Imunisasi.
    • Kebersihan tangan.
    • Air yang aman.
    • Sanitasi yang baik.
    • Kebersihan makanan.
    • Pengelolaan lingkungan.
  • Penyakit yang berulang atau berlangsung lama perlu diperiksakan kepada tenaga kesehatan.

1.12 Mengenali Masalah Pemberian Makan

  • Pemberian makanan merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan anak.
  • Setelah usia 6 bulan, kebutuhan gizi anak meningkat sehingga ASI perlu dilanjutkan bersama pemberian MPASI yang sesuai.
  • Masalah pemberian makan yang perlu diperhatikan antara lain:
    • Anak hanya mengonsumsi sedikit jenis makanan.
    • Anak jarang mendapatkan sumber protein hewani.
    • Anak terlalu banyak mengonsumsi makanan ringan.
    • Jadwal makan tidak teratur.
    • Tekstur makanan tidak sesuai usia.
    • Orang tua memaksa anak makan.
    • Orang tua tidak memahami tanda lapar dan kenyang anak.
  • Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya pemberian makanan yang beragam dan sesuai kebutuhan anak sebagai bagian dari pencegahan masalah gizi. (ayosehat.kemkes.go.id)
  • Jika anak mengalami kesulitan makan secara terus-menerus, keluarga perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

1.13 Deteksi Dini melalui Pemantauan Perkembangan

  • Pencegahan stunting tidak hanya berfokus pada ukuran tubuh anak.
  • Perkembangan anak juga perlu diperhatikan.
  • Orang tua dapat mengamati kemampuan:
    • Motorik kasar.
    • Motorik halus.
    • Bahasa.
    • Kognitif.
    • Sosial.
    • Emosional.
  • Kementerian Kesehatan menggunakan instrumen seperti Kuesioner Pra Skrining Perkembangan untuk membantu pemantauan perkembangan anak sesuai usia. (kesprimkom.kemkes.go.id)
  • Jika terdapat kemampuan yang belum dicapai atau terdapat kekhawatiran terhadap perkembangan anak, orang tua perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
  • Deteksi perkembangan membantu memastikan anak mendapatkan stimulasi dan intervensi sesuai kebutuhan.

1.14 Peran Posyandu dalam Deteksi Dini

  • Posyandu merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat.
  • Kegiatan Posyandu dapat membantu keluarga memantau pertumbuhan anak.
  • Kegiatan dapat meliputi:
    • Penimbangan.
    • Pengukuran panjang atau tinggi badan.
    • Pencatatan hasil pengukuran.
    • Pemantauan perkembangan.
    • Edukasi kesehatan dan gizi.
    • Konseling.
    • Tindak lanjut sesuai hasil pemantauan.
  • Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa Posyandu berperan dalam pemantauan pertumbuhan dan perkembangan serta deteksi masalah kesehatan pada masyarakat. (ayosehat.kemkes.go.id)
  • Orang tua sebaiknya membawa anak secara rutin agar data pertumbuhan dapat dipantau.

1.15 Peran Tenaga Kesehatan

  • Tenaga kesehatan berperan dalam melakukan penilaian lebih lanjut ketika ditemukan masalah.
  • Peran tersebut dapat mencakup:
    • Melakukan pengukuran.
    • Menilai status gizi.
    • Menilai kondisi kesehatan.
    • Menelusuri faktor risiko.
    • Memberikan konseling.
    • Memberikan intervensi sesuai kondisi.
    • Melakukan pemantauan lanjutan.
    • Melakukan rujukan jika diperlukan.
  • Tenaga kesehatan juga dapat membantu keluarga memahami hasil pengukuran.
  • Orang tua tidak perlu merasa takut ketika hasil pemantauan menunjukkan adanya masalah.
  • Hasil tersebut justru menjadi kesempatan untuk melakukan tindakan lebih awal.

1.16 Peran Orang Tua

  • Orang tua merupakan pihak utama dalam memastikan anak mendapatkan pemantauan dan perawatan.
  • Orang tua dapat:
    • Membawa anak ke Posyandu secara rutin.
    • Memastikan anak mendapatkan makanan bergizi.
    • Memantau perubahan nafsu makan.
    • Memperhatikan frekuensi sakit.
    • Menjaga kebersihan lingkungan.
    • Memberikan stimulasi.
    • Menyimpan catatan kesehatan anak.
    • Berkonsultasi apabila terdapat perubahan pertumbuhan.
  • Orang tua sebaiknya tidak menunggu sampai anak terlihat sangat pendek atau kurus untuk mencari bantuan.
  • Pencegahan lebih baik dilakukan ketika faktor risiko masih dapat diperbaiki.

1.17 Langkah Ketika Ditemukan Masalah Pertumbuhan

  • Ketika hasil pengukuran menunjukkan adanya masalah, orang tua sebaiknya:
    • Tetap tenang.
    • Memastikan hasil pengukuran dilakukan dengan benar.
    • Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
    • Menyampaikan riwayat makan anak.
    • Menyampaikan riwayat penyakit anak.
    • Menyampaikan kondisi kehamilan dan kelahiran jika diperlukan.
    • Mengikuti pemeriksaan lanjutan.
    • Menerapkan rekomendasi tenaga kesehatan.
    • Melakukan pemantauan berikutnya.
  • Jangan langsung memberikan produk atau suplemen tertentu tanpa rekomendasi tenaga kesehatan.
  • Jangan pula menganggap masalah pertumbuhan akan selalu membaik dengan sendirinya.
  • Penanganan perlu disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing anak.

1.18 Pencegahan Stunting Berdasarkan Faktor Risiko

  • Pencegahan stunting perlu disesuaikan dengan faktor risiko yang ditemukan.
  • Jika masalah berkaitan dengan asupan makanan:
    • Perbaiki kualitas dan keragaman makanan.
    • Pastikan kebutuhan protein dan zat gizi terpenuhi.
    • Konsultasikan kesulitan makan kepada tenaga kesehatan.
  • Jika masalah berkaitan dengan penyakit:
    • Lakukan pemeriksaan.
    • Tangani penyakit sesuai anjuran.
    • Perhatikan asupan makanan dan cairan.
  • Jika masalah berkaitan dengan sanitasi:
    • Gunakan air yang aman.
    • Gunakan jamban yang layak.
    • Cuci tangan menggunakan sabun.
    • Jaga kebersihan makanan dan lingkungan.
  • Jika masalah berkaitan dengan perkembangan:
    • Berikan stimulasi sesuai usia.
    • Pantau perkembangan.
    • Konsultasikan jika terdapat keterlambatan.
  • Jika faktor risiko berasal dari kondisi ibu:
    • Lakukan pemeriksaan kehamilan.
    • Penuhi kebutuhan gizi.
    • Tangani anemia dan masalah kesehatan lainnya.

1.19 Pentingnya Pendekatan Terpadu

  • Stunting biasanya tidak disebabkan oleh satu faktor saja.
  • Faktor gizi, kesehatan, sanitasi, pola asuh, lingkungan, dan kondisi sosial dapat saling berkaitan.
  • Karena itu, deteksi dini perlu melihat kondisi anak secara menyeluruh.
  • Pemantauan pertumbuhan saja tidak cukup apabila tidak disertai evaluasi faktor penyebab.
  • Sebaliknya, edukasi gizi juga tidak cukup apabila anak mengalami penyakit atau tinggal di lingkungan yang tidak sehat.
  • Pendekatan terpadu memungkinkan intervensi dilakukan sesuai kebutuhan anak dan keluarga.

2. Contoh/Studi Kasus

2.1 Studi Kasus: Berat Badan Tidak Naik

  • Fajar berusia 18 bulan.
  • Orang tua membawa Fajar ke Posyandu secara rutin.
  • Pada dua kali pengukuran terakhir, berat badan Fajar tidak menunjukkan kenaikan yang diharapkan.
  • Fajar juga mulai sering menolak makanan utama.
  • Orang tua menganggap kondisi tersebut hanya karena Fajar sedang aktif bermain.

Analisis:

  • Tidak bertambahnya berat badan perlu mendapatkan perhatian.
  • Kondisi tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai stunting.
  • Perlu dilakukan penelusuran mengenai pola makan, penyakit, dan kondisi kesehatan Fajar.
  • Orang tua perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
  • Pemantauan berikutnya diperlukan untuk melihat perubahan setelah dilakukan tindakan.
  • Kasus ini menunjukkan manfaat deteksi dini melalui pemantauan rutin.

2.2 Studi Kasus: Anak Terlihat Pendek

  • Rina berusia 2 tahun.
  • Orang tua merasa Rina lebih pendek dibandingkan beberapa anak seusianya.
  • Orang tua kemudian khawatir bahwa Rina mengalami stunting.
  • Namun, orang tua belum pernah melakukan pengukuran panjang badan secara benar.
  • Rina kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan.

Analisis:

  • Kekhawatiran orang tua merupakan alasan yang baik untuk melakukan pemeriksaan.
  • Namun, anak tidak dapat dinyatakan mengalami stunting hanya berdasarkan perbandingan visual dengan anak lain.
  • Panjang atau tinggi badan perlu diukur menggunakan alat dan teknik yang sesuai.
  • Hasil pengukuran perlu dinilai berdasarkan umur dan jenis kelamin.
  • Jika terdapat masalah pertumbuhan, tenaga kesehatan akan melakukan penilaian lebih lanjut.
  • Kasus ini menunjukkan pentingnya membedakan antara kekhawatiran orang tua, faktor risiko, dan diagnosis medis.

2.3 Studi Kasus: Anak Sering Sakit

  • Ardi berusia 21 bulan.
  • Dalam beberapa bulan terakhir, Ardi sering mengalami diare.
  • Setiap kali sakit, nafsu makannya menurun.
  • Keluarga menggunakan sumber air yang belum dikelola dengan baik.
  • Hasil pemantauan menunjukkan pertumbuhan Ardi perlu diperhatikan.

Analisis:

  • Riwayat penyakit berulang merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
  • Diare dapat memengaruhi kondisi gizi anak.
  • Kondisi air dan sanitasi keluarga juga perlu dievaluasi.
  • Pencegahan tidak hanya dilakukan dengan memperbaiki makanan, tetapi juga dengan memperbaiki kebersihan dan sanitasi.
  • Ardi perlu mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan pemantauan pertumbuhan.
  • Orang tua perlu mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan mengenai penanganan diare dan pemenuhan kebutuhan anak.

2.4 Studi Kasus: Faktor Risiko Sejak Kehamilan

  • Seorang ibu mengalami anemia selama kehamilan.
  • Pemeriksaan kehamilan tidak dilakukan secara rutin.
  • Setelah lahir, bayinya memiliki berat badan lahir rendah.
  • Orang tua kemudian membawa bayi ke Posyandu secara rutin untuk mendapatkan pemantauan.
  • Bayi mendapatkan ASI dan kemudian MPASI sesuai tahap usia.

Analisis:

  • Kondisi ibu selama kehamilan merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pencegahan stunting.
  • Riwayat berat badan lahir rendah juga menjadi informasi penting dalam pemantauan pertumbuhan.
  • Namun, faktor risiko tidak berarti anak pasti mengalami stunting.
  • Pemantauan yang dilakukan secara rutin memberikan kesempatan untuk mengetahui kondisi pertumbuhan anak lebih awal.
  • Pemberian gizi yang sesuai dan pencegahan penyakit perlu dilanjutkan setelah anak lahir.

2.5 Studi Kasus: Deteksi Dini melalui Posyandu

  • Seorang anak berusia 24 bulan rutin dibawa ke Posyandu.
  • Hasil pengukuran menunjukkan adanya perubahan pertumbuhan yang perlu diperhatikan.
  • Kader menyampaikan hasil pemantauan kepada orang tua dan mengarahkan keluarga untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
  • Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa anak memiliki pola makan yang kurang beragam dan sering mengalami infeksi.
  • Keluarga mendapatkan edukasi mengenai gizi, kebersihan, dan pencegahan penyakit.

Analisis:

  • Posyandu dapat menjadi salah satu tempat penting untuk melakukan pemantauan dan deteksi dini.
  • Kader memiliki peran dalam membantu pemantauan sesuai tugas dan kewenangannya.
  • Tenaga kesehatan melakukan penilaian dan tindak lanjut sesuai kondisi anak.
  • Keluarga berperan dalam menerapkan rekomendasi yang diberikan.
  • Kasus ini menunjukkan bahwa deteksi dini membutuhkan kerja sama antara keluarga, kader, dan tenaga kesehatan.

Referensi

  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Stunting. Ayo Sehat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (ayosehat.kemkes.go.id)
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Manfaat Penimbangan Balita di Posyandu untuk Cegah Stunting. Ayo Sehat. (ayosehat.kemkes.go.id)
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 1000 HPK Kunci Cegah Stunting. Ayo Sehat. (ayosehat.kemkes.go.id)
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cegah Stunting Itu Penting. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. (keslan.kemkes.go.id)
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stunting. (kemkes.go.id)
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer. (kesprimkom.kemkes.go.id)
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI). Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA).
  • Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Percepatan Penurunan Stunting.
  • Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Kebijakan dan Strategi Percepatan Penurunan Stunting.
  • Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Pemantauan Praktik MP-ASI Anak Usia 6–23 Bulan. (ayosehat.kemkes.go.id)