Hotline Konsultasi Bebas Narkoba (BNN): 184 | Stunting Dinkes Kota Gorontalo: 0813-4023-9563
Coba Kuis Sekarang
Narkoba

NARKOBA DAN KESEHATAN MENTAL: MEMAHAMI HUBUNGANNYA

Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Kondisi mental dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan sesuatu, mengambil keputusan, berinteraksi dengan orang lain, dan menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan. Remaja dan generasi muda dapat menghadapi berbagai tekanan, seperti tuntutan pendidikan, masalah keluarga, konflik pertemanan, tekanan sosial, masalah ekonomi, maupun kekhawatiran terhadap masa depan. Dalam kondisi tertentu, seseorang mungkin mencari cara yang dianggap dapat membuat dirinya merasa lebih tenang atau melupakan masalah. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah penggunaan narkoba sebagai cara untuk menghadapi masalah tersebut.

AD
Administrator
Penulis / Kontributor Resmi
Diperbarui: 23 August 2026
NARKOBA DAN KESEHATAN MENTAL: MEMAHAMI HUBUNGANNYA
NARKOBA DAN KESEHATAN MENTAL: MEMAHAMI HUBUNGANNYA

1. Apa Itu Kesehatan Mental?

Kesehatan mental bukan berarti seseorang harus selalu merasa bahagia.

Seseorang dengan kondisi mental yang baik tetap dapat:

  • merasa sedih,
  • kecewa,
  • marah,
  • takut,
  • cemas,
  • atau mengalami tekanan.

Hal yang penting adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi berbagai kondisi tersebut secara sehat dan menjalankan kehidupannya dengan baik.

Kesehatan mental berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam:

  • mengenali dan mengelola emosi,
  • menghadapi tekanan,
  • berhubungan dengan orang lain,
  • mengambil keputusan,
  • belajar,
  • bekerja,
  • dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

2. Tekanan dalam Kehidupan

Setiap orang dapat mengalami tekanan.

Contohnya:

Tekanan akademik

  • tugas yang menumpuk,
  • ujian,
  • tuntutan prestasi,
  • atau takut gagal.

Tekanan keluarga

  • konflik dengan orang tua,
  • masalah ekonomi keluarga,
  • perceraian,
  • atau kurangnya komunikasi.

Tekanan pertemanan

  • takut tidak diterima kelompok,
  • konflik dengan teman,
  • perundungan,
  • atau tekanan untuk mengikuti perilaku tertentu.

Tekanan sosial

  • keinginan untuk mengikuti tren,
  • membandingkan diri dengan orang lain,
  • tekanan dari media sosial,
  • atau keinginan mendapatkan pengakuan.

Tekanan tersebut tidak otomatis menyebabkan seseorang menggunakan narkoba.

Namun, kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan merupakan bagian penting dari pencegahan.


3. Ketika Seseorang Ingin Melarikan Diri dari Masalah

Ketika menghadapi masalah berat, seseorang mungkin berpikir:

"Saya ingin melupakan semuanya."

atau:

"Saya ingin berhenti memikirkan masalah ini."

Perasaan tersebut dapat terjadi ketika seseorang merasa sangat tertekan.

Masalah muncul ketika seseorang memilih cara yang berbahaya untuk melarikan diri dari masalah.

Narkoba mungkin memberikan perubahan perasaan tertentu untuk sementara waktu, tetapi masalah utama tidak benar-benar terselesaikan.

Bahkan, penggunaan zat dapat menimbulkan masalah tambahan dalam kesehatan, hubungan sosial, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.


4. Narkoba Bukan Solusi untuk Masalah Mental

Salah satu pemikiran yang perlu dihindari adalah:

"Saya menggunakan narkoba supaya tidak stres."

atau:

"Saya menggunakan narkoba supaya tidak memikirkan masalah."

Cara tersebut bukan penyelesaian masalah yang sehat.

Jika seseorang sedang mengalami tekanan, solusi yang lebih aman adalah:

  • berbicara dengan orang yang dipercaya,
  • beristirahat,
  • melakukan aktivitas fisik,
  • mengatur waktu,
  • mencari lingkungan yang mendukung,
  • melakukan kegiatan yang disukai,
  • atau mencari bantuan profesional.

5. Hubungan yang Kompleks antara Narkoba dan Kesehatan Mental

Hubungan antara penggunaan narkoba dan kondisi mental tidak selalu sederhana.

Seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental dapat memiliki risiko tertentu terkait penggunaan zat.

Sebaliknya, penggunaan zat juga dapat memperburuk kondisi psikologis seseorang.

Artinya, masalah dapat berkembang menjadi sebuah siklus:

Tekanan → mencari pelarian → menggunakan zat → muncul masalah baru → tekanan bertambah → kembali mencari pelarian.

Siklus tersebut perlu diputus dengan mendapatkan bantuan dan menggunakan strategi menghadapi masalah yang lebih sehat.


6. Jangan Memberi Label kepada Orang yang Mengalami Masalah

Ketika seseorang mengalami masalah kesehatan mental atau penyalahgunaan narkoba, masyarakat terkadang memberikan label seperti:

  • "lemah,"
  • "tidak punya iman,"
  • "tidak bisa mengendalikan diri,"
  • "anak nakal,"
  • atau "orang bermasalah."

Label seperti itu dapat membuat seseorang merasa malu dan takut mencari bantuan.

Pendekatan yang lebih baik adalah:

  • mendengarkan,
  • menunjukkan kepedulian,
  • menghindari penghinaan,
  • memberikan dukungan,
  • dan mengarahkan kepada bantuan yang tepat.

7. Mengenali Ketika Seseorang Sedang Mengalami Tekanan

Beberapa perubahan yang dapat menunjukkan seseorang sedang menghadapi tekanan antara lain:

  • menarik diri dari lingkungan,
  • kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai,
  • sulit berkonsentrasi,
  • perubahan pola tidur,
  • perubahan nafsu makan,
  • mudah marah,
  • sering merasa khawatir,
  • terlihat kehilangan motivasi,
  • atau mengalami penurunan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Namun, tanda-tanda tersebut tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis seseorang.

Jika perubahan berlangsung lama atau mengganggu kehidupan sehari-hari, sebaiknya seseorang mendapatkan bantuan dari tenaga profesional.


8. Cara Sehat Menghadapi Tekanan

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi tekanan tanpa menggunakan narkoba.

Mengatur waktu

Buat prioritas dan hindari menunda pekerjaan secara terus-menerus.

Berolahraga

Aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat dan membantu menjaga kebugaran.

Tidur yang cukup

Istirahat merupakan bagian penting dalam menjaga kondisi tubuh dan pikiran.

Berbicara dengan orang lain

Jangan menghadapi semua masalah sendirian.

Melakukan kegiatan positif

Misalnya:

  • membaca,
  • olahraga,
  • musik,
  • berkarya,
  • berorganisasi,
  • atau kegiatan sosial.

Mengurangi paparan yang membuat stres

Jika media sosial membuat seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain, pertimbangkan untuk mengurangi penggunaannya.


9. Membangun Kemampuan Mengelola Emosi

Emosi tidak harus selalu dilawan.

Kita perlu belajar mengenalinya.

Ketika sedang marah, misalnya, jangan langsung bertindak.

Gunakan langkah sederhana:

  1. Berhenti sejenak.
  2. Kenali apa yang sedang dirasakan.
  3. Cari tahu penyebabnya.
  4. Berikan waktu untuk menenangkan diri.
  5. Pikirkan tindakan yang paling tepat.
  6. Jika diperlukan, bicarakan dengan orang yang dipercaya.

Kemampuan seperti ini dapat membantu seseorang mengambil keputusan tanpa dipengaruhi emosi sesaat.


10. Jangan Menggunakan Narkoba sebagai "Obat"

Seseorang mungkin merasa bahwa zat tertentu dapat membuatnya:

  • lebih tenang,
  • lebih berani,
  • lebih bahagia,
  • lebih mudah tidur,
  • atau melupakan masalah.

Perasaan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menggunakan narkoba secara sembarangan.

Jika seseorang mengalami:

  • kecemasan,
  • kesulitan tidur,
  • tekanan psikologis,
  • atau masalah kesehatan lainnya,

sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, bukan mencari zat secara mandiri.

Obat yang digunakan untuk keperluan medis pun harus digunakan sesuai petunjuk tenaga kesehatan.


11. Peran Teman dalam Menjaga Kesehatan Mental

Teman dapat memberikan dukungan sederhana.

Misalnya:

"Kamu baik-baik saja?"

"Kalau mau cerita, saya siap mendengarkan."

"Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian."

Dukungan seperti ini dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Namun, teman bukan pengganti psikolog, dokter, atau tenaga profesional lainnya.

Jika masalahnya berat, bantu teman untuk mendapatkan bantuan yang tepat.


12. Kapan Harus Mencari Bantuan?

Jangan menunggu sampai masalah menjadi sangat berat.

Pertimbangkan untuk mencari bantuan jika seseorang:

  • merasa tidak mampu mengatasi masalah sendiri,
  • mengalami tekanan dalam waktu lama,
  • tidak mampu menjalankan aktivitas sehari-hari,
  • mengalami perubahan perilaku yang signifikan,
  • mulai menggunakan zat untuk mengatasi masalah,
  • atau merasa kehidupannya semakin sulit dikendalikan.

Bantuan dapat diperoleh melalui:

  • orang tua,
  • keluarga,
  • guru,
  • dosen,
  • konselor,
  • psikolog,
  • dokter,
  • Puskesmas,
  • atau fasilitas kesehatan lainnya.

13. Jangan Takut Meminta Bantuan

Ada anggapan bahwa meminta bantuan berarti seseorang lemah.

Anggapan tersebut tidak tepat.

Meminta bantuan justru menunjukkan bahwa seseorang menyadari dirinya membutuhkan dukungan.

Contohnya:

"Saya sedang mengalami banyak tekanan dan saya tidak tahu harus mulai dari mana."

Kalimat sederhana tersebut sudah menjadi langkah awal untuk mencari bantuan.


14. Studi Kasus

Kasus

Sinta merupakan mahasiswa yang sedang mengalami banyak tekanan.

Tugas kuliah menumpuk, kondisi keluarganya sedang mengalami masalah, dan ia mulai menarik diri dari teman-temannya.

Salah seorang teman kemudian menawarkan suatu zat dengan mengatakan:

"Ini bisa membuat kamu lebih tenang. Coba saja."

Apa masalah dari situasi tersebut?

Sinta sedang berada dalam kondisi rentan.

Memberikan narkoba atau zat berbahaya sebagai "solusi" justru dapat menambah masalah.

Apa yang lebih tepat dilakukan?

Teman Sinta sebaiknya:

  • mendengarkan ceritanya,
  • memberikan dukungan,
  • tidak menawarkan narkoba,
  • mendorongnya mencari bantuan,
  • dan menghubungkannya dengan pihak yang dapat memberikan bantuan profesional.

15. Studi Kasus Kedua

Kasus

Andi sedang mengalami tekanan karena masalah keluarga.

Ia mulai mengatakan:

"Saya sudah tidak sanggup menghadapi semuanya."

Temannya kemudian menjawab:

"Sudahlah, jangan dipikirkan."

Apakah respons tersebut sudah cukup?

Belum tentu.

Ketika seseorang mengungkapkan tekanan yang berat, sebaiknya jangan langsung menganggap masalah tersebut sederhana.

Respons yang lebih baik:

"Saya dengar kamu sedang mengalami masa yang berat. Mau cerita apa yang terjadi?"

Kemudian, jika diperlukan:

"Menurut saya, kita perlu mencari orang yang bisa membantu kamu menghadapi masalah ini."


16. Membangun Lingkungan yang Mendukung

Pencegahan narkoba juga dapat dimulai dengan menciptakan lingkungan yang membuat seseorang merasa aman untuk berbicara.

Lingkungan yang sehat memiliki karakteristik:

  • tidak mudah menghakimi,
  • menghargai perbedaan,
  • memberikan ruang untuk berbicara,
  • saling membantu,
  • mendorong kegiatan positif,
  • dan tidak menormalisasi penggunaan narkoba.

Lingkungan seperti ini dapat menjadi salah satu faktor perlindungan bagi generasi muda.


17. Kesehatan Mental dan Masa Depan

Menjaga kesehatan mental bukan hanya tentang menghindari masalah hari ini.

Kondisi mental yang terjaga dapat membantu seseorang:

  • belajar lebih baik,
  • bekerja lebih produktif,
  • membangun hubungan yang sehat,
  • mengambil keputusan dengan lebih baik,
  • dan mengejar tujuan hidup.

Karena itu, menjaga kesehatan mental merupakan bagian dari investasi terhadap masa depan.


Referensi

  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Pedoman Tata Laksana Gangguan Penggunaan NAPZA pada Anak dan Remaja. Pedoman ini membahas gangguan penggunaan NAPZA pada anak dan remaja serta penatalaksanaannya. Repository Kementerian Kesehatan RI
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Ayo Sehat. Portal edukasi kesehatan masyarakat yang memuat informasi mengenai kesehatan jiwa dan pencegahan NAPZA. Ayo Sehat – Kemenkes RI
  • Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia. Sumber informasi nasional mengenai pencegahan dan penanganan penyalahgunaan narkoba. BNN RI
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Direktorat Kesehatan Jiwa. Informasi dan edukasi mengenai kesehatan jiwa masyarakat. Kementerian Kesehatan RI