A. Pertumbuhan dan Perkembangan: Apa Bedanya?
Dua istilah ini sering digunakan bersamaan, tetapi memiliki arti yang berbeda.
Pertumbuhan
Pertumbuhan berkaitan dengan bertambahnya ukuran tubuh.
Contohnya:
- berat badan;
- panjang badan;
- tinggi badan;
- lingkar kepala.
Perkembangan
Perkembangan berkaitan dengan bertambahnya kemampuan anak.
Contohnya:
- kemampuan bergerak;
- kemampuan berkomunikasi;
- kemampuan berinteraksi;
- kemampuan berpikir;
- kemampuan melakukan aktivitas sesuai tahap usianya.
Jadi:
Pertumbuhan = perubahan ukuran tubuh.
Perkembangan = bertambahnya kemampuan anak.
Keduanya perlu diperhatikan secara bersama-sama.
B. Mengapa Pemantauan Harus Dimulai Sejak Kehamilan?
Kondisi kesehatan ibu selama kehamilan dapat memengaruhi kondisi janin.
Karena itu, pemantauan dimulai bahkan sebelum anak lahir.
Pada masa kehamilan, perhatian diberikan antara lain terhadap:
- kondisi kesehatan ibu;
- status gizi ibu;
- pertambahan berat badan ibu;
- tekanan darah;
- kondisi kehamilan;
- pertumbuhan janin;
- hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Keluarga tidak perlu menunggu sampai bayi lahir untuk mulai memperhatikan pertumbuhan.
C. Pemantauan Kehamilan
Pemeriksaan kehamilan secara teratur memungkinkan tenaga kesehatan memantau kondisi ibu dan janin.
Melalui pemeriksaan, tenaga kesehatan dapat memberikan:
- penilaian kondisi ibu;
- pemantauan kehamilan;
- konseling;
- suplementasi sesuai kebutuhan;
- imunisasi sesuai indikasi;
- pemeriksaan tertentu;
- rujukan apabila ditemukan masalah.
Peran keluarga
Keluarga dapat membantu dengan:
- mengingatkan jadwal pemeriksaan;
- menemani ibu;
- membantu transportasi;
- memastikan ibu memiliki waktu untuk beristirahat;
- mendukung ibu mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
D. Setelah Bayi Lahir: Apa yang Perlu Dipantau?
Setelah lahir, pemantauan berlanjut.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Pertumbuhan fisik
Meliputi pengukuran:
- berat badan;
- panjang badan/tinggi badan;
- lingkar kepala sesuai kebutuhan.
2. Perkembangan
Meliputi kemampuan anak sesuai tahap usianya.
3. Kesehatan umum
Misalnya:
- apakah anak sering sakit;
- apakah anak memiliki kesulitan makan;
- apakah anak tampak sangat lemah;
- apakah terdapat keluhan lain.
E. Berat Badan Tidak Sama dengan Tinggi Badan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap berat badan sebagai satu-satunya indikator pertumbuhan.
Padahal, penilaian pertumbuhan anak menggunakan beberapa ukuran yang dibandingkan dengan usia dan jenis kelamin sesuai standar pertumbuhan.
Karena itu:
Anak yang berat badannya terlihat baik belum tentu seluruh aspek pertumbuhannya optimal.
Sebaliknya, anak yang terlihat kecil juga tidak dapat langsung dinyatakan mengalami stunting hanya berdasarkan pengamatan visual.
Penilaian harus dilakukan menggunakan pengukuran yang tepat.
F. Apa Itu Stunting?
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar pertumbuhan menurut umur.
Penentuan status tersebut dilakukan berdasarkan pengukuran antropometri dan standar pertumbuhan yang berlaku.
Karena itu, orang tua tidak dianjurkan melakukan diagnosis sendiri dengan cara:
- membandingkan anak dengan tetangga;
- membandingkan dengan saudara;
- melihat anak tampak pendek;
- menggunakan foto;
- menggunakan perkiraan tinggi badan.
G. Mengapa Pengukuran Harus Dilakukan dengan Benar?
Kesalahan pengukuran dapat menghasilkan informasi yang tidak tepat.
Contohnya:
Jika panjang badan bayi diukur dengan posisi tubuh yang salah, hasilnya dapat berbeda dari kondisi sebenarnya.
Begitu pula dengan:
- timbangan yang tidak tepat;
- alat ukur yang tidak sesuai;
- posisi anak yang salah;
- pencatatan yang keliru.
Karena itu, pengukuran perlu dilakukan menggunakan alat dan prosedur yang sesuai.
H. Pemantauan di Posyandu
Posyandu merupakan salah satu tempat yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar.
Keluarga dapat membawa anak untuk mendapatkan pemantauan dan pelayanan sesuai program yang tersedia.
Buku KIA juga dapat digunakan untuk mencatat berbagai informasi kesehatan ibu dan anak.
Kebiasaan yang baik
Setiap kali mendapatkan pelayanan:
Datang → ukur → catat → pahami hasil → ikuti tindak lanjut.
Jangan hanya membawa anak untuk ditimbang tanpa mengetahui apa arti hasil pemantauannya.
I. Memahami Grafik Pertumbuhan
Hasil pengukuran pertumbuhan anak dapat dicatat pada grafik pertumbuhan.
Grafik membantu tenaga kesehatan melihat:
- posisi pertumbuhan anak;
- perubahan dari waktu ke waktu;
- kecenderungan pertumbuhan;
- kemungkinan adanya masalah yang membutuhkan perhatian.
Yang penting bukan hanya satu angka.
Pola perubahan dari waktu ke waktu juga perlu diperhatikan.
J. Mengapa Tren Pertumbuhan Penting?
Bayangkan dua anak:
Anak A
Berat badan:
- bulan 1: 6 kg
- bulan 2: 6,4 kg
- bulan 3: 6,8 kg
- bulan 4: 7,1 kg
Anak B
Berat badan:
- bulan 1: 7 kg
- bulan 2: 7 kg
- bulan 3: 6,9 kg
- bulan 4: 6,9 kg
Meskipun angka awal kedua anak berbeda, pola perubahan perlu diperhatikan.
Anak B memerlukan perhatian lebih lanjut karena berat badannya tidak menunjukkan peningkatan seperti yang diharapkan.
Interpretasi sebenarnya harus dilakukan dengan mempertimbangkan usia, jenis kelamin, pengukuran lain, dan standar pertumbuhan.
K. Jangan Menunggu Anak Terlihat Pendek
Stunting merupakan kondisi yang berkembang dalam waktu yang tidak singkat.
Karena itu, pencegahan dan deteksi tidak seharusnya menunggu sampai anak tampak pendek.
Pemantauan secara berkala memungkinkan masalah pertumbuhan diketahui lebih awal.
Prinsip:
Pantau secara rutin, bukan setelah muncul masalah.
L. Pertumbuhan yang Perlu Mendapat Perhatian
Keluarga perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila:
- berat badan tidak bertambah;
- berat badan mengalami penurunan;
- hasil pengukuran menunjukkan masalah;
- pertumbuhan anak terlihat melambat;
- anak mengalami kesulitan makan berkepanjangan;
- anak sering mengalami penyakit;
- orang tua memiliki kekhawatiran terhadap pertumbuhan anak.
Satu tanda saja tidak otomatis berarti anak mengalami stunting.
Namun, tanda tersebut merupakan alasan untuk melakukan penilaian lebih lanjut.
M. Mengenal Perkembangan Anak
Selain pertumbuhan fisik, orang tua perlu memperhatikan kemampuan anak.
Perkembangan anak mencakup beberapa aspek, seperti:
Motorik
Kemampuan menggunakan tubuh dan anggota gerak.
Contoh:
- mengangkat kepala;
- duduk;
- merangkak;
- berdiri;
- berjalan.
Bahasa dan komunikasi
Contoh:
- mengeluarkan suara;
- merespons suara;
- mengucapkan kata;
- berkomunikasi dengan orang lain.
Sosial dan emosional
Contoh:
- tersenyum;
- mengenali orang;
- berinteraksi;
- menunjukkan emosi.
Kognitif
Contoh:
- memperhatikan benda;
- mencari benda;
- mencoba memecahkan masalah sederhana;
- memahami hubungan sebab-akibat sederhana.
N. Setiap Anak Memiliki Kecepatan yang Berbeda
Orang tua sering membandingkan:
“Anak tetangga sudah bisa berjalan, mengapa anak saya belum?”
Perbandingan seperti itu tidak selalu tepat.
Perkembangan anak memiliki rentang yang normal dan dipengaruhi berbagai faktor.
Yang lebih penting adalah melihat:
- kemampuan anak;
- perkembangan dari waktu ke waktu;
- pencapaian sesuai rentang usia;
- adanya tanda yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Jika orang tua khawatir, jangan hanya membandingkan dengan anak lain.
Konsultasikan kepada tenaga kesehatan.
O. Tanda Perkembangan yang Perlu Diperhatikan
Orang tua perlu memberikan perhatian jika anak:
- tidak menunjukkan kemampuan yang seharusnya muncul sesuai tahap usia;
- kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki;
- tidak merespons interaksi;
- mengalami kesulitan komunikasi;
- mengalami kesulitan bergerak;
- tidak menunjukkan kemajuan dalam perkembangan.
Hal yang sangat penting:
Jika anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, jangan menunggu terlalu lama untuk berkonsultasi.
P. Deteksi Dini Bukan Diagnosis
Ini merupakan konsep penting dalam pembelajaran.
Deteksi dini
Bertujuan menemukan kemungkinan adanya masalah.
Diagnosis
Merupakan penetapan kondisi berdasarkan pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan yang kompeten.
Contoh:
Orang tua melihat anaknya belum melakukan suatu kemampuan sesuai usia.
❌ Kesimpulan yang salah:
“Anak saya pasti mengalami gangguan perkembangan.”
✅ Sikap yang tepat:
“Saya perlu berkonsultasi agar perkembangan anak dapat dinilai.”
Q. Jangan Menggunakan Media Sosial untuk Diagnosis
Internet dapat menjadi sumber informasi, tetapi tidak dapat menggantikan pemeriksaan anak secara langsung.
Informasi di media sosial dapat:
- tidak lengkap;
- tidak sesuai kondisi anak;
- berasal dari sumber yang tidak terpercaya;
- membuat orang tua terlalu khawatir;
- atau justru membuat orang tua mengabaikan masalah.
Gunakan sumber resmi dan tenaga kesehatan ketika membutuhkan penilaian.
R. Buku KIA sebagai Alat Pendamping Keluarga
Buku KIA merupakan salah satu sumber informasi penting bagi keluarga.
Buku ini dapat membantu keluarga mengikuti:
- catatan pemeriksaan ibu;
- catatan kesehatan anak;
- pertumbuhan;
- imunisasi;
- informasi pengasuhan;
- berbagai pelayanan kesehatan.
Keluarga sebaiknya:
Membawa Buku KIA setiap kali mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Jangan menyimpan Buku KIA hanya sebagai dokumen.
Gunakan sebagai alat untuk memahami perjalanan kesehatan ibu dan anak.
S. Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua
1. Hanya menimbang anak ketika sakit
Pemantauan seharusnya dilakukan secara berkala.
2. Menganggap anak sehat karena aktif
Anak yang aktif tetap perlu dipantau pertumbuhannya.
3. Membandingkan anak dengan anak lain
Setiap anak memiliki karakteristik dan perjalanan pertumbuhan yang berbeda.
4. Menunggu sampai anak terlihat sangat pendek
Pencegahan dan deteksi sebaiknya dilakukan lebih awal.
5. Mengabaikan hasil pengukuran
Hasil pengukuran sebaiknya dibahas dengan tenaga kesehatan.
6. Mencoba mendiagnosis sendiri
Gunakan tenaga kesehatan untuk memastikan kondisi anak.
T. Peran Kader dan Tenaga Kesehatan
Keluarga bukan satu-satunya pihak yang terlibat dalam deteksi dini.
Kader dan tenaga kesehatan memiliki peran dalam:
- melakukan pengukuran;
- mencatat hasil;
- memberikan informasi;
- menilai kondisi anak;
- melakukan skrining sesuai kewenangan;
- memberikan konseling;
- menentukan tindak lanjut;
- merujuk jika diperlukan.
Kerja sama antara keluarga dan tenaga kesehatan memungkinkan masalah diketahui dan ditangani lebih cepat.
U. Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan?
Selain masalah pertumbuhan dan perkembangan, orang tua harus mengenali kondisi yang memerlukan pertolongan segera.
Pada bayi dan anak kecil, segera cari pertolongan apabila anak mengalami kondisi serius seperti:
- kesulitan bernapas;
- kejang;
- sangat lemas atau sulit dibangunkan;
- tidak mau minum;
- muntah terus-menerus;
- tanda dehidrasi berat;
- perdarahan;
- atau kondisi lain yang tampak memburuk dengan cepat.
Jangan menunggu jadwal Posyandu apabila anak menunjukkan kondisi yang membutuhkan pertolongan segera.
V. Peran Keluarga dalam Deteksi Dini
Peran keluarga dapat diringkas dalam empat tindakan praktis:
1. Amati
Perhatikan perubahan pada anak.
2. Catat
Simpan hasil pengukuran dan informasi kesehatan anak.
3. Konsultasikan
Tanyakan kepada tenaga kesehatan jika ada kekhawatiran.
4. Tindak lanjuti
Ikuti rekomendasi dan jadwal pemeriksaan.
Dengan pola tersebut, keluarga menjadi mitra aktif dalam pemantauan kesehatan anak, bukan hanya penerima informasi.
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA). Kementerian Kesehatan RI. Buku KIA – Kementerian Kesehatan RI
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia – Kementerian Kesehatan RI
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Stunting. Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI. Ayo Sehat – Stunting
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 1000 HPK Kunci Cegah Stunting. Ayo Sehat – 1000 HPK Kunci Cegah Stunting
- Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. JDIH BPK RI – Perpres Nomor 72 Tahun 2021