Hotline Konsultasi Bebas Narkoba (BNN): 184 | Stunting Dinkes Kota Gorontalo: 0813-4023-9563
Coba Kuis Sekarang
Stunting

Peran Keluarga dalam Pencegahan Stunting

Pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab ibu, tenaga kesehatan, atau pemerintah. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling dekat dengan anak, sehingga memiliki peran penting dalam memastikan anak mendapatkan makanan bergizi, pola asuh yang baik, lingkungan yang sehat, serta pelayanan kesehatan yang diperlukan. Keluarga mengambil keputusan sehari-hari yang berpengaruh terhadap kesehatan anak, mulai dari makanan yang disediakan, kebiasaan mencuci tangan, pemanfaatan Posyandu, pemberian ASI dan MPASI, hingga bagaimana orang tua memberikan perhatian dan stimulasi kepada anak. Karena itu, pencegahan stunting perlu dilakukan melalui peran bersama seluruh anggota keluarga.

AD
Administrator
Penulis / Kontributor Resmi
Diperbarui: 21 August 2026
Peran Keluarga dalam Pencegahan Stunting
Peran Keluarga dalam Pencegahan Stunting

A. Keluarga sebagai Lingkungan Pertama Anak

Anak pertama kali belajar dan berkembang di dalam keluarga.

Kebiasaan yang dilakukan keluarga dapat memengaruhi:

  • pola makan;
  • kebersihan;
  • kesehatan;
  • perkembangan;
  • aktivitas fisik;
  • perilaku anak.

Misalnya, jika orang tua terbiasa makan sayur dan buah, anak akan lebih mudah mengenal makanan tersebut.

Sebaliknya, jika keluarga terbiasa memberikan minuman manis dan makanan ringan secara berlebihan, anak dapat terbiasa dengan pola tersebut.

Karena itu:

Perubahan perilaku keluarga merupakan salah satu bagian penting dalam pencegahan stunting.


B. Peran Keluarga dalam 1.000 HPK

Keluarga memiliki peran berbeda sesuai tahapan kehidupan anak.

Periode Peran Keluarga
Sebelum dan selama kehamilan Mendukung kesehatan dan gizi ibu
Bayi baru lahir Mendukung ASI dan perawatan bayi
0–6 bulan Mendukung ASI eksklusif
6–23 bulan Menyediakan MPASI bergizi dan aman
Seluruh periode Menjaga kebersihan, kesehatan, stimulasi, dan pemantauan pertumbuhan

Dengan demikian, peran keluarga dimulai sejak kehamilan dan terus berlanjut sampai anak tumbuh besar.


C. Peran Keluarga pada Masa Kehamilan

Kehamilan merupakan awal dari periode 1.000 HPK.

Keluarga dapat mendukung ibu dengan cara:

1. Mendukung pemeriksaan kehamilan

Keluarga dapat:

  • mengingatkan jadwal pemeriksaan;
  • menemani ibu;
  • membantu transportasi;
  • mendukung ibu mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

2. Mendukung makanan bergizi

Keluarga perlu membantu menyediakan makanan yang beragam.

Contohnya:

Makanan pokok + protein + sayur + buah

Tidak harus mahal.

Bahan makanan lokal dapat digunakan sesuai ketersediaan dan kemampuan keluarga.


3. Mendukung konsumsi tablet tambah darah

Ibu hamil perlu mengikuti anjuran tenaga kesehatan mengenai konsumsi tablet tambah darah.

Anggota keluarga dapat membantu mengingatkan dan memberikan dukungan agar ibu mengikuti anjuran tersebut.


4. Menciptakan lingkungan bebas asap rokok

Paparan asap rokok perlu dihindari.

Anggota keluarga yang merokok sebaiknya tidak merokok di dalam rumah maupun di dekat ibu hamil dan anak.


D. Peran Ayah dalam Pencegahan Stunting

Ayah memiliki peran penting dalam kesehatan keluarga.

Peran ayah bukan hanya mencari nafkah.

Ayah juga dapat:

  • menemani ibu melakukan pemeriksaan kehamilan;
  • membantu menyediakan makanan bergizi;
  • mendukung ibu menyusui;
  • membantu pekerjaan rumah;
  • mengantar anak ke Posyandu;
  • terlibat dalam pemberian makan;
  • bermain dengan anak;
  • memberikan stimulasi;
  • menjaga lingkungan rumah tetap sehat.

Pesan penting

Ayah bukan sekadar pendukung. Ayah adalah bagian dari tim pengasuhan anak.


E. Peran Ibu

Ibu memiliki peran penting dalam:

  • menjaga kesehatan selama kehamilan;
  • memberikan ASI;
  • menyiapkan makanan anak;
  • memberikan MPASI;
  • mengenali tanda lapar dan kenyang anak;
  • menjaga kebersihan makanan;
  • membawa anak melakukan pemantauan pertumbuhan.

Namun, tanggung jawab tersebut tidak berarti semua pekerjaan harus dilakukan oleh ibu seorang diri.

Dukungan ayah dan anggota keluarga sangat diperlukan.


F. Dukungan terhadap Ibu Menyusui

Menyusui membutuhkan dukungan.

Keluarga dapat membantu dengan:

Dukungan fisik

  • membantu pekerjaan rumah;
  • menyiapkan makanan;
  • membantu merawat anak lainnya.

Dukungan emosional

  • memberikan apresiasi;
  • tidak menyalahkan ibu;
  • memberikan kesempatan beristirahat;
  • membantu ketika ibu mengalami kesulitan.

Dukungan praktis

  • menemani konsultasi jika terdapat masalah menyusui;
  • membantu mencari informasi dari sumber terpercaya;
  • mendukung pemberian ASI sesuai rekomendasi.

G. Peran Keluarga dalam Pemberian MPASI

Ketika anak memasuki usia sekitar enam bulan, kebutuhan energi dan zat gizinya meningkat.

Keluarga perlu memastikan MPASI:

  • sesuai usia;
  • cukup energi;
  • cukup protein;
  • beragam;
  • aman;
  • memiliki tekstur sesuai kemampuan anak;
  • diberikan secara responsif.

Contoh

Bukan hanya:

Nasi + kuah

Tetapi dapat dikembangkan menjadi:

Nasi + telur + sayur + buah

atau:

Nasi + ikan + tahu + sayur + buah.


H. Pemberian Makan Secara Responsif

Pemberian makan secara responsif berarti orang tua memperhatikan respons anak selama proses makan.

Orang tua perlu mengenali:

Tanda lapar

Misalnya anak:

  • membuka mulut;
  • mencari makanan;
  • menunjukkan ketertarikan pada makanan.

Tanda kenyang

Misalnya anak:

  • menutup mulut;
  • memalingkan kepala;
  • mengurangi respons terhadap makanan.

Anak tidak seharusnya dipaksa menghabiskan makanan ketika sudah menunjukkan tanda kenyang.


I. Jangan Menjadikan Makanan sebagai Hukuman atau Hadiah

Contoh kebiasaan yang sebaiknya dihindari:

“Kalau tidak mau makan, nanti tidak boleh bermain.”

atau:

“Kalau makan sayur, nanti diberi permen.”

Kebiasaan tersebut dapat membuat anak memiliki hubungan yang kurang baik dengan makanan.

Lebih baik orang tua:

  • memberikan contoh;
  • mengenalkan makanan secara bertahap;
  • menciptakan suasana makan yang menyenangkan;
  • memberikan pilihan makanan sehat yang tersedia.

J. Peran Keluarga dalam Kebersihan

Pencegahan stunting juga berkaitan dengan lingkungan yang sehat.

Keluarga perlu membiasakan:

  • mencuci tangan dengan sabun;
  • menggunakan air bersih;
  • menjaga kebersihan makanan;
  • menggunakan jamban sehat;
  • menjaga kebersihan peralatan makan;
  • membuang sampah pada tempatnya;
  • menjaga kebersihan lingkungan.

Kebersihan membantu mengurangi risiko penyakit infeksi yang dapat mengganggu kesehatan dan status gizi anak.


K. Lima Waktu Penting untuk Cuci Tangan

Keluarga perlu membiasakan cuci tangan dengan sabun, terutama:

  1. sebelum makan;
  2. sebelum menyiapkan makanan;
  3. setelah buang air besar;
  4. setelah membersihkan anak yang buang air besar;
  5. setelah melakukan aktivitas yang menyebabkan tangan kotor.

Kebiasaan sederhana ini dapat menjadi bagian dari perlindungan kesehatan seluruh keluarga.


L. Peran Keluarga dalam Pemantauan Pertumbuhan

Orang tua tidak perlu menunggu anak terlihat pendek atau kurus untuk mulai memperhatikan pertumbuhan.

Pertumbuhan perlu dipantau secara berkala.

Keluarga dapat memanfaatkan:

Posyandu → Puskesmas → fasilitas kesehatan

Pemantauan dapat membantu mengetahui perubahan pertumbuhan anak dan menentukan apakah diperlukan tindak lanjut.

Ingat:

Posyandu bukan hanya tempat imunisasi.

Posyandu juga dapat menjadi tempat untuk mendapatkan berbagai pelayanan kesehatan ibu dan anak serta pemantauan pertumbuhan.


M. Peran Keluarga dalam Stimulasi

Anak membutuhkan stimulasi untuk mendukung perkembangan.

Stimulasi tidak harus menggunakan mainan mahal.

Orang tua dapat:

  • berbicara dengan anak;
  • bernyanyi;
  • membacakan buku;
  • bermain;
  • mengajak anak bergerak;
  • mengenalkan benda di sekitar;
  • memberikan kesempatan anak mencoba hal sederhana sesuai usia.

Prinsip sederhana:

Sering berinteraksi + bermain + berbicara + memberikan kasih sayang.


N. Pentingnya Kasih Sayang dan Respons Orang Tua

Pertumbuhan anak tidak hanya membutuhkan makanan.

Anak juga membutuhkan:

  • rasa aman;
  • kasih sayang;
  • perhatian;
  • interaksi;
  • respons terhadap kebutuhan.

Ketika anak menangis atau menunjukkan kebutuhan, orang tua perlu merespons dengan tepat.

Lingkungan pengasuhan yang positif membantu menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan anak.


O. Keluarga sebagai Contoh

Anak belajar dengan meniru.

Jika orang tua:

makan sayur → anak melihat

minum air putih → anak melihat

mencuci tangan → anak melihat

bermain dan bergerak → anak melihat

membuang sampah pada tempatnya → anak melihat

Maka anak memiliki contoh nyata mengenai perilaku sehat.

Pesan:

Anak tidak hanya mendengar apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga melihat apa yang dilakukan orang tua.


P. Peran Kakek dan Nenek

Dalam banyak keluarga, kakek dan nenek juga terlibat dalam pengasuhan anak.

Peran mereka dapat menjadi sangat positif apabila informasi yang digunakan sesuai dengan rekomendasi kesehatan saat ini.

Kakek dan nenek dapat:

  • mendukung pemberian ASI;
  • membantu menjaga anak;
  • membantu pekerjaan rumah;
  • memberikan kasih sayang;
  • mendukung pemberian makanan bergizi.

Namun, apabila terdapat perbedaan pendapat mengenai pengasuhan, keluarga sebaiknya menggunakan informasi dari tenaga kesehatan dan sumber resmi sebagai rujukan.


Q. Menghadapi Mitos dalam Keluarga

Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga mungkin menemukan berbagai informasi mengenai makanan dan pengasuhan anak.

Contohnya:

Mitos

“Anak yang gemuk pasti sehat.”

Fakta

Pertumbuhan anak perlu dinilai berdasarkan ukuran dan standar pertumbuhan yang sesuai, bukan hanya berdasarkan penampilan.


Mitos

“Anak yang aktif tidak perlu dibawa ke Posyandu.”

Fakta

Anak tetap perlu dipantau pertumbuhan dan perkembangannya secara berkala.


Mitos

“MPASI harus mahal supaya anak tidak stunting.”

Fakta

MPASI dapat memanfaatkan berbagai bahan pangan lokal dengan tetap memperhatikan kecukupan dan keragaman zat gizi.


Mitos

“Masalah stunting hanya tanggung jawab ibu.”

Fakta

Pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan keluarga dan berbagai pihak.


R. Kapan Keluarga Harus Mencari Bantuan?

Keluarga perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila:

  • berat badan anak tidak bertambah;
  • pertumbuhan anak mengalami perlambatan;
  • anak mengalami kesulitan makan yang menetap;
  • anak sering sakit;
  • anak mengalami masalah dalam pemberian ASI atau MPASI;
  • orang tua memiliki kekhawatiran mengenai perkembangan anak;
  • terdapat hasil pemantauan pertumbuhan yang membutuhkan tindak lanjut.

Prinsip penting:

Lebih baik berkonsultasi lebih awal daripada menunggu masalah menjadi lebih berat.


S. Studi Kasus

Kasus 1 — “Semua Diserahkan kepada Ibu”

Ibu Siti memiliki bayi berusia 4 bulan.

Suaminya bekerja sepanjang hari dan menganggap urusan bayi sepenuhnya merupakan tanggung jawab istrinya.

Ibu Siti merasa kelelahan dan kesulitan mengurus bayi sekaligus pekerjaan rumah.

Pertanyaan

Apa yang dapat dilakukan keluarga?

Pembahasan

Ayah dan anggota keluarga lain dapat membantu:

  • pekerjaan rumah;
  • merawat bayi;
  • memberikan dukungan emosional;
  • memastikan ibu mendapatkan makanan bergizi;
  • mendukung ibu menyusui.

Pencegahan stunting bukan pekerjaan satu orang.


Kasus 2 — “Anak Tidak Mau ke Posyandu”

Ibu Rina memiliki anak berusia 18 bulan. Anak terlihat aktif dan sehat sehingga selama enam bulan terakhir tidak dibawa ke Posyandu.

Pertanyaan

Apakah keputusan tersebut tepat?

Pembahasan

Tidak.

Anak tetap perlu mendapatkan pemantauan pertumbuhan dan pelayanan kesehatan secara berkala.

Kondisi anak yang terlihat aktif tidak menggantikan pentingnya pemantauan pertumbuhan.


Kasus 3 — “Nenek Memberikan Makanan Manis”

Seorang nenek sering memberikan makanan dan minuman manis kepada cucunya karena menurutnya anak akan lebih cepat gemuk dan sehat.

Pertanyaan

Bagaimana keluarga sebaiknya menyikapi kondisi tersebut?

Pembahasan

Keluarga sebaiknya:

  1. Tidak menyalahkan atau memarahi nenek.
  2. Menjelaskan pentingnya makanan bergizi secara baik.
  3. Menggunakan informasi dari tenaga kesehatan atau sumber resmi.
  4. Menyepakati pola makan yang diterapkan bersama.
  5. Membatasi pemberian makanan/minuman tinggi gula.

Tujuannya adalah membangun kesepakatan keluarga berdasarkan informasi yang benar.

T. Pesan Utama

“Pencegahan Stunting Dimulai dari Rumah”

Keluarga dapat berkontribusi melalui tindakan sederhana:

Ibu sehat

Ayah mendukung

Makanan bergizi

ASI dan MPASI tepat

Rumah bersih

Anak mendapat stimulasi

Pertumbuhan dipantau

Masalah ditangani sejak dini

Tidak semua keluarga memiliki kondisi ekonomi yang sama.

Namun setiap keluarga dapat mulai melakukan perubahan sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.

 

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA). Kementerian Kesehatan RI – Buku KIA
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 1000 HPK Kunci Cegah Stunting. Ayo Sehat – 1000 HPK Kunci Cegah Stunting
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Stunting. Ayo Sehat – Stunting
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Makan, Pola Asuh dan Sanitasi. Kementerian Kesehatan RI – Pencegahan Stunting
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat.
  6. Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. JDIH BPK RI – Perpres Nomor 72 Tahun 2021
  7. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Percepatan Penurunan Stunting. BKKBN – Percepatan Penurunan Stunting