Hotline Konsultasi Bebas Narkoba (BNN): 184 | Stunting Dinkes Kota Gorontalo: 0813-4023-9563
Coba Kuis Sekarang
Stunting

Pencegahan Stunting melalui Pemenuhan Gizi

Gizi merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Kekurangan gizi yang berlangsung dalam waktu lama dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan risiko terjadinya stunting. Pemenuhan gizi untuk mencegah stunting tidak hanya dilakukan setelah anak lahir. Upaya tersebut perlu dimulai sejak sebelum kehamilan, selama kehamilan, setelah bayi lahir, hingga anak memasuki usia balita. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menekankan pentingnya perbaikan pola makan sebagai salah satu bagian dari upaya pencegahan stunting. Pola makan yang baik perlu didukung oleh pola asuh, pelayanan kesehatan, sanitasi, dan lingkungan yang sehat. Oleh karena itu, pemahaman mengenai kebutuhan gizi ibu dan anak menjadi salah satu keterampilan penting bagi keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

AD
Administrator
Penulis / Kontributor Resmi
Diperbarui: 20 August 2026
Pencegahan Stunting melalui Pemenuhan Gizi
Pencegahan Stunting melalui Pemenuhan Gizi

A. Hubungan Gizi dengan Stunting

Pertumbuhan anak membutuhkan energi dan berbagai zat gizi.

Zat gizi tersebut digunakan tubuh untuk:

  • membangun jaringan tubuh;

  • mendukung pertumbuhan tulang;

  • membentuk dan memperbaiki sel;

  • mendukung perkembangan otak;

  • menjaga sistem kekebalan tubuh;

  • menghasilkan energi;

  • mendukung berbagai fungsi tubuh.

Apabila kebutuhan gizi tidak terpenuhi dalam waktu lama, pertumbuhan anak dapat terganggu.

Namun, stunting tidak hanya disebabkan oleh makanan. Kondisi kesehatan, infeksi, pola asuh, sanitasi, air bersih, dan faktor sosial ekonomi juga dapat berperan.

Dengan demikian:

Gizi yang baik merupakan salah satu bagian penting dari pencegahan stunting, tetapi pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.


B. Apa Itu Gizi Seimbang?

Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Prinsip gizi seimbang tidak hanya berbicara mengenai makanan, tetapi juga mencakup:

  1. mengonsumsi makanan beragam;

  2. menerapkan perilaku hidup bersih;

  3. melakukan aktivitas fisik;

  4. memantau berat badan secara teratur.

Kementerian Kesehatan RI menggunakan prinsip Pedoman Gizi Seimbang sebagai salah satu dasar edukasi gizi masyarakat.

Untuk anak, penerapan gizi seimbang perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan, kondisi kesehatan, dan tahap perkembangannya.


C. Zat Gizi Penting untuk Pertumbuhan Anak

Anak membutuhkan berbagai zat gizi untuk tumbuh dan berkembang.

1. Karbohidrat

Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi utama.

Contoh sumber karbohidrat:

  • nasi;
  • kentang;
  • jagung;
  • singkong;
  • ubi;
  • sagu;
  • roti;
  • mi.

Karbohidrat dapat menjadi bagian dari makanan anak, tetapi tidak sebaiknya menjadi satu-satunya komponen makanan.


2. Protein

Protein sangat penting untuk pertumbuhan dan pembentukan jaringan tubuh.

Sumber protein dapat berasal dari:

Protein hewani

  • telur;
  • ikan;
  • ayam;
  • daging;
  • hati;
  • susu dan produk olahannya.

Protein nabati

  • tahu;
  • tempe;
  • kacang-kacangan;
  • produk olahan kedelai.

Dalam pemberian makanan anak, sumber protein hewani perlu mendapat perhatian karena menyediakan berbagai zat gizi yang penting untuk pertumbuhan.


3. Lemak

Lemak merupakan sumber energi dan membantu penyerapan vitamin tertentu.

Lemak dapat berasal dari:

  • ikan;
  • telur;
  • daging;
  • santan;
  • kacang-kacangan;
  • minyak;
  • alpukat.

Pemilihan sumber lemak tetap perlu memperhatikan kualitas dan jumlahnya.


4. Vitamin dan Mineral

Vitamin dan mineral dibutuhkan tubuh dalam jumlah relatif kecil, tetapi memiliki fungsi yang penting.

Contohnya:

  • vitamin A;
  • vitamin D;
  • vitamin C;
  • zat besi;
  • zinc;
  • kalsium;
  • yodium.

Kekurangan beberapa zat gizi mikro dapat memengaruhi kesehatan dan tumbuh kembang anak.


5. Air

Air diperlukan untuk berbagai fungsi tubuh.

Anak perlu mendapatkan cairan yang cukup sesuai usia dan kondisi.

Untuk bayi di bawah enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif, ASI merupakan sumber cairan dan zat gizi utama.


D. Gizi Ibu Sebelum dan Selama Kehamilan

Pencegahan stunting dapat dimulai sebelum bayi lahir.

Kondisi kesehatan dan gizi ibu dapat memengaruhi kesehatan kehamilan dan pertumbuhan janin.

Ibu hamil perlu:

  • mengonsumsi makanan beragam;

  • memenuhi kebutuhan protein;

  • mengonsumsi sayur dan buah;

  • memenuhi kebutuhan zat gizi mikro;

  • melakukan pemeriksaan kehamilan;

  • mengikuti anjuran tenaga kesehatan terkait suplementasi;

  • menjaga kebersihan makanan dan lingkungan.

Kebutuhan gizi ibu selama kehamilan meningkat karena tubuh membutuhkan zat gizi untuk mempertahankan kesehatan ibu sekaligus mendukung pertumbuhan janin.


E. Pentingnya Protein Selama Kehamilan dan Masa Anak

Protein merupakan salah satu zat gizi penting dalam proses pertumbuhan.

Pada ibu hamil, protein mendukung kebutuhan tubuh ibu dan pertumbuhan janin.

Pada bayi dan balita, protein dibutuhkan untuk mendukung:

  • pertumbuhan jaringan;

  • pembentukan otot;

  • perkembangan organ;

  • pembentukan berbagai komponen tubuh.

Sumber protein hewani seperti telur, ikan, ayam, dan daging dapat menjadi pilihan dalam pola makan keluarga.

Namun, pemenuhan gizi tetap perlu dilakukan secara beragam dan tidak bergantung pada satu jenis makanan saja.


F. ASI sebagai Bagian dari Pemenuhan Gizi Bayi

ASI merupakan makanan yang penting bagi bayi.

WHO dan Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, kemudian dilanjutkan bersama MPASI yang sesuai.

Manfaat pemberian ASI antara lain:

  • menyediakan zat gizi yang dibutuhkan bayi;

  • mengandung komponen imunologis;

  • mendukung perlindungan terhadap infeksi;

  • mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Pemberian ASI juga perlu didukung oleh lingkungan keluarga yang memberikan dukungan kepada ibu menyusui.


G. MPASI untuk Anak Usia 6 Bulan ke Atas

Pada usia sekitar enam bulan, kebutuhan energi dan zat gizi bayi meningkat sehingga ASI perlu dilengkapi dengan makanan pendamping ASI.

MPASI bukan sekadar makanan untuk membuat anak kenyang.

MPASI harus mampu melengkapi kebutuhan zat gizi anak.

Prinsip MPASI

MPASI perlu:

1. Tepat waktu

Diberikan ketika bayi telah mencapai usia dan tahap perkembangan yang sesuai.

2. Adekuat

Mengandung energi dan zat gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan anak.

3. Aman

Disiapkan dan diberikan dengan memperhatikan kebersihan dan keamanan makanan.

4. Diberikan secara responsif

Orang tua memperhatikan tanda lapar dan kenyang anak serta membantu anak belajar makan dengan cara yang positif.


H. Komposisi Makanan Anak

Secara sederhana, makanan anak dapat terdiri dari:

Makanan pokok
+
Protein hewani
+
Protein nabati
+
Sayur
+
Buah
+
Sumber lemak

Komposisi dan jumlah makanan perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.

Contoh menu sederhana:

Contoh 1

Nasi + telur + sayur + buah

Contoh 2

Nasi + ikan + sayur + buah

Contoh 3

Nasi + ayam + tahu + sayur

Contoh 4

Kentang + telur + sayuran + buah

Contoh tersebut bukan menu wajib. Keluarga dapat menggunakan bahan pangan lokal yang tersedia dengan tetap memperhatikan keberagaman dan kandungan gizinya.


I. Pangan Lokal untuk Pencegahan Stunting

Makanan bergizi tidak harus selalu mahal.

Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

Contohnya:

Sumber karbohidrat

  • beras;

  • jagung;

  • singkong;

  • ubi;

  • sagu.

Sumber protein hewani

  • ikan;

  • telur;

  • ayam;

  • daging.

Sumber protein nabati

  • tempe;

  • tahu;

  • kacang-kacangan.

Sumber vitamin dan mineral

  • bayam;

  • kangkung;

  • wortel;

  • labu;

  • pepaya;

  • pisang;

  • jeruk.

Pemanfaatan pangan lokal dapat membantu keluarga menyediakan makanan bergizi dengan menyesuaikan kondisi ekonomi dan ketersediaan bahan makanan di daerah masing-masing.


J. Contoh Kesalahan dalam Pemberian Makan Anak

Beberapa kebiasaan yang perlu diperhatikan:

1. Makanan hanya didominasi karbohidrat

Contohnya anak hanya mendapatkan nasi dengan kuah tanpa sumber protein yang cukup.

Perbaikan: tambahkan sumber protein seperti telur, ikan, ayam, daging, tahu, atau tempe.


2. Anak terlalu sering diberikan makanan atau minuman tinggi gula

Makanan atau minuman tinggi gula dapat membuat anak kenyang tetapi belum tentu memenuhi kebutuhan zat gizi.

Perbaikan: utamakan makanan bergizi dan batasi makanan/minuman tinggi gula.


3. Tidak memberikan makanan beragam

Makanan yang sama setiap hari dapat meningkatkan risiko kurangnya variasi zat gizi.

Perbaikan: gunakan berbagai sumber pangan.


4. Memaksa anak makan

Memaksa anak makan dapat menciptakan pengalaman makan yang tidak menyenangkan.

Perbaikan: terapkan pemberian makan secara responsif dan ciptakan suasana makan yang nyaman.


5. Tidak memperhatikan tekstur makanan

Tekstur makanan perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan makan anak.

Perbaikan: tingkatkan tekstur makanan secara bertahap sesuai perkembangan anak.


K. Peran Orang Tua dalam Pemenuhan Gizi

Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan makan anak.

Hal yang dapat dilakukan:

  1. Menyediakan makanan beragam.

  2. Memberikan contoh pola makan sehat.

  3. Menyediakan sumber protein.

  4. Membiasakan makan bersama keluarga.

  5. Mengurangi pemberian makanan/minuman tinggi gula.

  6. Menjaga kebersihan makanan.

  7. Memperhatikan tanda lapar dan kenyang anak.

  8. Memantau pertumbuhan anak.

  9. Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika terdapat masalah makan atau pertumbuhan.


L. Pemantauan Pertumbuhan

Pemenuhan gizi perlu disertai dengan pemantauan pertumbuhan.

Orang tua dapat memanfaatkan Posyandu atau fasilitas kesehatan untuk memantau:

  • berat badan;

  • panjang atau tinggi badan;

  • pertumbuhan berdasarkan umur;

  • perkembangan anak.

Hasil pengukuran perlu dilihat berdasarkan standar pertumbuhan yang berlaku.

Pemantauan secara rutin memungkinkan masalah pertumbuhan diketahui lebih awal sehingga dapat dilakukan tindak lanjut.


M. Hubungan Gizi, Infeksi, dan Stunting

Gizi dan infeksi memiliki hubungan yang erat.

Anak yang mengalami infeksi dapat mengalami:

nafsu makan menurun

asupan makanan berkurang

kebutuhan tubuh meningkat

status gizi dapat memburuk

Sebaliknya, kondisi gizi yang buruk juga dapat meningkatkan kerentanan anak terhadap penyakit tertentu.

Karena itu, pencegahan stunting perlu dilakukan dengan dua pendekatan sekaligus:

Memenuhi kebutuhan gizi + mencegah dan menangani infeksi.


N. Studi Kasus

Kasus

Budi berusia 2 tahun. Setiap hari Budi lebih sering makan nasi, kerupuk, dan makanan ringan. Ia jarang makan telur, ikan, atau lauk lainnya karena orang tuanya menganggap anak akan makan jika lapar.

Budi juga jarang dibawa ke Posyandu karena terlihat aktif bermain.

Pertanyaan

Apa saja masalah yang terdapat pada pola makan Budi?

Pembahasan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Pola makan kurang beragam.

  2. Sumber protein belum menjadi bagian rutin dari makanan.

  3. Makanan ringan berpotensi menggantikan makanan utama.

  4. Pertumbuhan belum dipantau secara rutin.

Orang tua dapat mulai memperbaiki pola makan dengan memberikan makanan beragam, menambahkan sumber protein, membatasi makanan yang rendah zat gizi, serta membawa anak untuk pemantauan pertumbuhan secara rutin.


O. Mitos dan Fakta tentang Gizi dan Stunting

Mitos 1

“Makanan mahal pasti lebih bergizi.”

Fakta:
Makanan bergizi dapat berasal dari berbagai bahan pangan lokal. Yang penting adalah keberagaman, kecukupan zat gizi, keamanan, dan kesesuaian dengan kebutuhan anak.


Mitos 2

“Yang penting anak kenyang.”

Fakta:
Kenyang tidak selalu berarti kebutuhan gizi terpenuhi. Anak membutuhkan makanan yang menyediakan berbagai zat gizi.


Mitos 3

“Telur hanya makanan tambahan, bukan makanan penting.”

Fakta:
Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi anak.


Mitos 4

“Kalau anak aktif, berarti gizinya pasti cukup.”

Fakta:
Aktivitas anak bukan satu-satunya indikator status gizi. Pertumbuhan perlu dipantau menggunakan pengukuran yang sesuai.


P. Pesan Utama

Gizi yang baik dimulai dari makanan yang beragam, cukup, aman, dan sesuai kebutuhan anak.

Pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi perlu dilakukan sejak sebelum kehamilan dan berlanjut sepanjang masa pertumbuhan anak.

Hal yang perlu diingat:

Ibu sehat → kehamilan sehat → bayi mendapatkan ASI → MPASI tepat → makanan bergizi → pertumbuhan dipantau.

Tidak perlu menunggu makanan mahal untuk mulai memperbaiki gizi keluarga. Manfaatkan bahan pangan lokal yang tersedia dan kombinasikan berbagai kelompok makanan.


Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat.

  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Makan, Pola Asuh dan Sanitasi. Kementerian Kesehatan RI – Pencegahan Stunting

  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Penjelasan Lengkap Soal Pangan Cegah Stunting. Kementerian Kesehatan RI – Pangan untuk Cegah Stunting

  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Stunting. Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI. Ayo Sehat – Stunting

  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 1000 HPK Kunci Cegah Stunting. Ayo Sehat – 1000 HPK Kunci Cegah Stunting

  6. Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Perpres Nomor 72 Tahun 2021 – JDIH BPK RI

  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Mengenal Apa Itu Stunting. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan – Mengenal Apa Itu Stunting